Untuk para peminat dan profesional Biostatistics, Epidemiology dan Sport Science
Minggu, 14 Agustus 2011
SERTIFIKASI DOSEN UNM TAHUN 2011
Hari Ahad, 14 Agustus 2011 merupakan hari akhir dari proses administrasi berbasis online penilaian SERDOS tahun 2011. Ditandai dengan berakhirnya proses penilaian Deskrispi Diri DYS yang dilakukan oleh Asesor PTPS seluruh Indonesia, termasuk PTPS UNM Makassar. Selanjutnya tinggal menunggu proses kelulusan dan penyerahan sertifikat. mari berdoa mudahan-mudahan 197 DYS UNM dapat lulus dengan baik. Amin.
Minggu, 31 Juli 2011
Amir Bossa, Maestro Sepak Raga
Selengkapnya kutipan dari Harian Fajar, Minggu, 31 Juli 2011:
Minggu, 31 Juli 2011 | 00:49:51 WITA | 5 HITS
Seniman Pa'raga Sulsel, Amir Bossa
Bola Rotan Jadi Saksi Penderitaan
Seniman Pa'raga Sulsel, Amir Bossa
Bola Rotan Jadi Saksi Penderitaan
Laporan : AMRULLAH, MAKASSAR
Yusran/Fajar
SAKIT. Seniman Pa’raga Sulsel, Amir Bossa, terbaring di ruangan 1,5 meter kali 2 meter di Bulogading. Belum ada perhatian pemerintah terhadap kondisi seniman yang selalu mengharumkan dan memperkenalkan warisan budaya nusantara di luar negeri ini.
SAKIT. Seniman Pa’raga Sulsel, Amir Bossa, terbaring di ruangan 1,5 meter kali 2 meter di Bulogading. Belum ada perhatian pemerintah terhadap kondisi seniman yang selalu mengharumkan dan memperkenalkan warisan budaya nusantara di luar negeri ini.
SEPAK Raga merupakan kesenian khas Sulsel. Seni ini memadukan unsur gerakan silat. Salah satu seniman senior Pa'raga di Sulsel adalah Amir Bossa.
AMIR Bossa lahir di Makassar, 48 tahun silam. Dia menekuni seni pa'raga sejak masih kecil. Di usia 13 tahun dia mulai memperdalam kesenian ini. Awalnya dia tergabung dalam komunitas Pa'raga di Benteng Rotterdam. Ada beberapa guru pa'raga yang sempat didatanginya.
Seperti almarhum H Sido. Juga, almarhum Tarawe Dg Nai yang tidak lain merupakan murid langsung dari H Sido. Dia pun bergabung di dalam sebuah kelompok pa'raga yang berada di Benteng Rotterdam. Dari sinilah kariernya sebagai seniman pa'raga mulai terasah. Dari satu kompetisi ke kompetisi hingga dari acara pengantin hingga acara peresmian pembangunan dia diberi kepercayaan untuk menunjukkan kebolehannya.
Kala itu, nilai-nilai seni yang dipertontonkannya hanya dihargai Rp10. Bahkan, tampil di sebuah acara bersama rekan-rekannya, dia rela untuk berjalan kaki. "Dulu kalau mau tampil cuman jalan kaki. Sekarang sudah ada kendaraan, mobil atau lainnya," beber Amir Bossa, saat ditemui di kediaman saudaranya di Jalan Bulogading, Somba Opu, Jumat, 29 Juli.
Tetapi itu tidak melunturkan kesetiaannya terhadap seni sepak raga bola anyaman rotan ini. Bayaran kecil bukan jaminan dirinya harus meninggalkan seni pa'raga untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Hingga akhirnya buah kesabarannya yang cukup manis dipetiknya. Tahun 1995 dirinya diundang bersama beberapa seniman dari bidang seni lainnya ke luar negeri.
Mereka diminta tampil di empat kota di Jepang dan Malaysia. "Waktu itu hanya satu pa'raga yang dipanggil. Saya yang dipilih. Saya pikir itu hanya keberuntungan," paparnya agak sedikit merendah.
Keberuntungan? Jawabannya, tentu tidak. Pasalnya, beberapa tahun kemudian dia kembali diundang ke Belanda dan Afrika Selatan. Selama beberapa hari dia tampil di negara-negara tersebut. Penampilannya bersama seniman lainnya cukup memukau. Kesenian Sulsel semakin terkenal karenanya.
Gerakan-gerakan berbahaya menjadi tontonan menarik. Masyarakat di negara-negara tersebut dibuat terpesona. Maklum, seni pa'raga tidak hanya sekadar kebolehan mengolah bola anyaman rotan, tetapi, juga mengandung unsur lainnya. Seperti, pencak silat. Saat beraksi mereka meloncat, menendang bola sambil membenturkan diri ke tanah dengan keras hingga beradu kebolehan silat dengan sesama seniman pa'raga lainnya.
Beberapa teknik pa'raga biasa disebut tepo tahiyat, tepo kalomping, tepo bersila, tepo riallaka, atau tepo cungkit. "Di situlah seninya pa'raga. Tapi, sekarang tekni-teknik tepo ini sudah mulai tidak pertontonkan. Ya, karena membahayakan diri sendiri. Paling ada kalau di acara-acara resmi kerajaan, atau pengantin. Masih ada yang mempertontonkannya," tandasnya.
Dahsyatnya gerakan-gerakan tepo (patahan) tersebut memang cukup berbahaya. "Lihat saja kondisi saya sekarang. Saya didiagnosa dokter terkena saraf tulang. Mungkin ini imbas dari yang saya lakukan sejak dulu. Semua ini untuk seni pa'raga. Saya tidak sedih. Ini tiga buah bola (yang menggantung) teman setia saya," tandasnya.
Kondisi Amir Bossa, memang tidak seperti dulu lagi. Sudah setahun lebih dirinya terbaring di tempat tidur. Kaki kirinya sudah sulit digerakkan. Lebih memprihatinkan lagi, dia tinggal di sebuah kamar di bawah rumah panggung keponakannya. Ukuran 1,5 meter kali 2,5 meter. Sangat sempit. Ventilasi udara pun tidak ada. Pengap dan lembab.
Kehidupan Amir memang sangat memilukan. Selain tidak memiliki rumah tinggal pribadi, dia juga belum memiliki pendamping hidup. Karena itu, selama sakit dia hanya dirawat ala kadarnya oleh sang keponakan.
"Kami harap pemerintah untuk memperhatikan nasib-nasib seniman. Jangan di kala mereka sehat baru dicari. Tapi, kalau lagi sakit, ya, diperhatikan juga lah," ungkapnya dengan nada sedih.
Kesedihan Amir sangat wajar. Dia butuh bantuan untuk membiayai pengobatannya. Perkataan yang terlontar dari mulutnya memang patut dimaklumi. Dirinya telah mengharumkan dan memperkenalkan warisan budaya nusantara asal Sulsel di beberapa negara di belahan dunia.
"Memang ada obat, tapi harganya mahal. Semasa sehat beliau sangat memperhatikan kami. Kami harus membalas kebaikannya. Kotorannya, ya kami bersihkan. Beliau sudah sulit untuk berjalan. Kami harap pemerintah bisa memperhatikan beliau seperti dulu di kala sehat," terang, salah seorang keluargnya," kata Nufreni.
Perhatian pemerintah terhadap kondisi seniman yang sakit memang masih kurang. Perhatian pemerintah masih sebatas bagaimana memperhatikan warisan budaya nusantara. Amir Bossa dapat dikatakan satu dari sekian seniman yang merasakannya. Teman setianya hanya berupa bola anyaman rotan yang membisu seakan menahan kesedihan sang seniman Pa'raga ini. (*)
AMIR Bossa lahir di Makassar, 48 tahun silam. Dia menekuni seni pa'raga sejak masih kecil. Di usia 13 tahun dia mulai memperdalam kesenian ini. Awalnya dia tergabung dalam komunitas Pa'raga di Benteng Rotterdam. Ada beberapa guru pa'raga yang sempat didatanginya.
Seperti almarhum H Sido. Juga, almarhum Tarawe Dg Nai yang tidak lain merupakan murid langsung dari H Sido. Dia pun bergabung di dalam sebuah kelompok pa'raga yang berada di Benteng Rotterdam. Dari sinilah kariernya sebagai seniman pa'raga mulai terasah. Dari satu kompetisi ke kompetisi hingga dari acara pengantin hingga acara peresmian pembangunan dia diberi kepercayaan untuk menunjukkan kebolehannya.
Kala itu, nilai-nilai seni yang dipertontonkannya hanya dihargai Rp10. Bahkan, tampil di sebuah acara bersama rekan-rekannya, dia rela untuk berjalan kaki. "Dulu kalau mau tampil cuman jalan kaki. Sekarang sudah ada kendaraan, mobil atau lainnya," beber Amir Bossa, saat ditemui di kediaman saudaranya di Jalan Bulogading, Somba Opu, Jumat, 29 Juli.
Tetapi itu tidak melunturkan kesetiaannya terhadap seni sepak raga bola anyaman rotan ini. Bayaran kecil bukan jaminan dirinya harus meninggalkan seni pa'raga untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Hingga akhirnya buah kesabarannya yang cukup manis dipetiknya. Tahun 1995 dirinya diundang bersama beberapa seniman dari bidang seni lainnya ke luar negeri.
Mereka diminta tampil di empat kota di Jepang dan Malaysia. "Waktu itu hanya satu pa'raga yang dipanggil. Saya yang dipilih. Saya pikir itu hanya keberuntungan," paparnya agak sedikit merendah.
Keberuntungan? Jawabannya, tentu tidak. Pasalnya, beberapa tahun kemudian dia kembali diundang ke Belanda dan Afrika Selatan. Selama beberapa hari dia tampil di negara-negara tersebut. Penampilannya bersama seniman lainnya cukup memukau. Kesenian Sulsel semakin terkenal karenanya.
Gerakan-gerakan berbahaya menjadi tontonan menarik. Masyarakat di negara-negara tersebut dibuat terpesona. Maklum, seni pa'raga tidak hanya sekadar kebolehan mengolah bola anyaman rotan, tetapi, juga mengandung unsur lainnya. Seperti, pencak silat. Saat beraksi mereka meloncat, menendang bola sambil membenturkan diri ke tanah dengan keras hingga beradu kebolehan silat dengan sesama seniman pa'raga lainnya.
Beberapa teknik pa'raga biasa disebut tepo tahiyat, tepo kalomping, tepo bersila, tepo riallaka, atau tepo cungkit. "Di situlah seninya pa'raga. Tapi, sekarang tekni-teknik tepo ini sudah mulai tidak pertontonkan. Ya, karena membahayakan diri sendiri. Paling ada kalau di acara-acara resmi kerajaan, atau pengantin. Masih ada yang mempertontonkannya," tandasnya.
Dahsyatnya gerakan-gerakan tepo (patahan) tersebut memang cukup berbahaya. "Lihat saja kondisi saya sekarang. Saya didiagnosa dokter terkena saraf tulang. Mungkin ini imbas dari yang saya lakukan sejak dulu. Semua ini untuk seni pa'raga. Saya tidak sedih. Ini tiga buah bola (yang menggantung) teman setia saya," tandasnya.
Kondisi Amir Bossa, memang tidak seperti dulu lagi. Sudah setahun lebih dirinya terbaring di tempat tidur. Kaki kirinya sudah sulit digerakkan. Lebih memprihatinkan lagi, dia tinggal di sebuah kamar di bawah rumah panggung keponakannya. Ukuran 1,5 meter kali 2,5 meter. Sangat sempit. Ventilasi udara pun tidak ada. Pengap dan lembab.
Kehidupan Amir memang sangat memilukan. Selain tidak memiliki rumah tinggal pribadi, dia juga belum memiliki pendamping hidup. Karena itu, selama sakit dia hanya dirawat ala kadarnya oleh sang keponakan.
"Kami harap pemerintah untuk memperhatikan nasib-nasib seniman. Jangan di kala mereka sehat baru dicari. Tapi, kalau lagi sakit, ya, diperhatikan juga lah," ungkapnya dengan nada sedih.
Kesedihan Amir sangat wajar. Dia butuh bantuan untuk membiayai pengobatannya. Perkataan yang terlontar dari mulutnya memang patut dimaklumi. Dirinya telah mengharumkan dan memperkenalkan warisan budaya nusantara asal Sulsel di beberapa negara di belahan dunia.
"Memang ada obat, tapi harganya mahal. Semasa sehat beliau sangat memperhatikan kami. Kami harus membalas kebaikannya. Kotorannya, ya kami bersihkan. Beliau sudah sulit untuk berjalan. Kami harap pemerintah bisa memperhatikan beliau seperti dulu di kala sehat," terang, salah seorang keluargnya," kata Nufreni.
Perhatian pemerintah terhadap kondisi seniman yang sakit memang masih kurang. Perhatian pemerintah masih sebatas bagaimana memperhatikan warisan budaya nusantara. Amir Bossa dapat dikatakan satu dari sekian seniman yang merasakannya. Teman setianya hanya berupa bola anyaman rotan yang membisu seakan menahan kesedihan sang seniman Pa'raga ini. (*)
Sabtu, 30 Juli 2011
SEPAK RAGA, AMIR BOSSA DAN FORMETRIC
Bola rotan jadi saksi penderitaan, demikian Fajar menulis di halaman pertama, Minggu 31 Juli 2011. Laporan wartawan Fajar mengetengahkan nasib maestro bola raga Amir Bossa yang sementara dalam penderitaan: sakit, tersendiri dan tidak terpedulikan.
Amir Bossa menyatakan: " Saya didiagnosa dokter terkena saraf tulang. Mungkin ini imbas dari yang saya lakukan sejak dulu. Semua ini untuk seni pa"raga. ....... "
Seorang atlet, termasuk pemain sepak raga, haruslah sehat semasa bermain dan setelah masa bermain/memasuki usia tua. Masa atletnya sudah pasti sehat, namun karena olahraga yang tidak sesuai atau berlebihan bisa memberikan imbas yang nanti dapat diketahui dan dirasakan setelah tua.
Tampaknya inilah yang terjadi pada diri Amir Bossa. Semangatnya semasa jaya bermain raga melupakan dirinya untuk memelihara dan memeriksa kesehatan tubuhnya sehingga tidak terganggu atau sakit di hari tua.
Pembelajaran yang bisa diperoleh dari kehidupan Amir Bossa ini terkait dengan suatu alat diagnose baru di FIK UNM Makassar, berupa alat yang disebut FORMETRIC. Alat ini dapat memberikan diagnose dini dan tepat tentang struktur dan postur tubuh manusia dengan menampakkkan gambar empat dimensi dari struktur tulang belakang (columna vertebralis). Bagi atlet yang berisiko gangguan tulang belakang karena olahraga prestasi yang ditekuninya, selayaknya melakukan pemeriksaan Formetric. Semoga.
(mnb31072011)
Amir Bossa menyatakan: " Saya didiagnosa dokter terkena saraf tulang. Mungkin ini imbas dari yang saya lakukan sejak dulu. Semua ini untuk seni pa"raga. ....... "
Seorang atlet, termasuk pemain sepak raga, haruslah sehat semasa bermain dan setelah masa bermain/memasuki usia tua. Masa atletnya sudah pasti sehat, namun karena olahraga yang tidak sesuai atau berlebihan bisa memberikan imbas yang nanti dapat diketahui dan dirasakan setelah tua.
Tampaknya inilah yang terjadi pada diri Amir Bossa. Semangatnya semasa jaya bermain raga melupakan dirinya untuk memelihara dan memeriksa kesehatan tubuhnya sehingga tidak terganggu atau sakit di hari tua.
Pembelajaran yang bisa diperoleh dari kehidupan Amir Bossa ini terkait dengan suatu alat diagnose baru di FIK UNM Makassar, berupa alat yang disebut FORMETRIC. Alat ini dapat memberikan diagnose dini dan tepat tentang struktur dan postur tubuh manusia dengan menampakkkan gambar empat dimensi dari struktur tulang belakang (columna vertebralis). Bagi atlet yang berisiko gangguan tulang belakang karena olahraga prestasi yang ditekuninya, selayaknya melakukan pemeriksaan Formetric. Semoga.
(mnb31072011)
Rabu, 22 Juni 2011
Pembukaan Klinik Olahraga Penyakit Hipokinetik FIK UNM Makassar
Pada hari Kamis , 2 Juni 2011, Rektor UNM mebukan dengan resmi, launching, Klinik Olahraga FIK UNM, sebagai bagian dari pelaksaan Program LPPM IbIKK (Iptek bagi Inovasi dan Kreatifitas Kampus). Sejak 9 Juni, Klinik Olahraga ini sudah terbuka untuk umum, memberikan pelayayan terhadap klien yang mengalami gangguan / penyakit hipokinetik, khususnya kegemukan.
(mnb)
(mnb)
Minggu, 01 Mei 2011
OLAHRAGAWAN MEROKOK
Wajarkah seorang olahragawan merokok? Telah berapakah banyaknya atlet yang berkebiasaan merokok? Berapa banyak rokok yang biasa diisap oleh atlet? Wajarkah stadion/gelanggang olahraga/lapangan/gedung olahraga membiarkan ada orang merokok didalamnya? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan perihal atlet dan rokok.
Anda mungkin punya pertanyaan atau justru jawaban atas masalah seputar rokok dan atlet.? Silahkan berikan komentar anda. Terima kasih
Anda mungkin punya pertanyaan atau justru jawaban atas masalah seputar rokok dan atlet.? Silahkan berikan komentar anda. Terima kasih
JADILAH PELATIH ASING
Ingin jadi pelatih? Jadilah pelatih asing/internasional. Upah pelatih nasional masih standar rupiah, bukan dollar, dan tentu masih rendah. Berita terkait, perbandingan upah pelatih nasional dengan pelatih asing dapat dibaca berikut ini.
JAKARTA (Suara Karya): Ketua Badan Tim Nasional (BTN), Iman Arif mengumumkan pelatih Persija Jakarta Rahmad Darmawan terpilih sebagai pelatih timnas U 23 yang dipersiapkan menuju SEA Games 2011.
"Rahmad Darmawan terpilih sebagai pelatih timnas U-23 yang dipersiapkan ke SEA Games 2011. Namanya sudah masuk dalam daftar Program Indonesia Emas (Prima). Kini, kita tinggal tunggu Surat Keputusannya," kata Iman Arif di Jakarta, kemarin.
Dalam menjalankan tugas sebagai pelatih, Rahmad akan tetap berkoordinasi dengan pelatih timnas, Alfred Riedel. Menurut Iman Arif, Rahmad akan mendapatkan gaji sebesar Rp 7 juta dan Ridel selaku pelatih asing dibayar 3 ribu dolar.
"Masalah honor ini memang masih terus menjadi pembicaraan antara pihak BTN dengan Rahmad Darmawan. Tetapi, honor Itu tidak mungkin ditingkatkan karena sesuai dengan standar yang ditetapkan Prima," kata Iman Arif.
Mantan pelatih yang membawa tim Persipura dan Sriwijaya FC menjadi juara Divisi Utama PSSI dan Indonesia Super League ini sudah menyatakan kesediannya. Namun, ia baru bersedia menangani mulai Juli 2011 dimana kompetisi ISL sudah selesai.
Lebih jauh, Imam menyebutkan Rahmad juga mengungkapkan keberatannya mengikuti program pembentukan karakter di Batu Jajar yang diwajibkan kepada atlet dan pelatih Prima. Alasannya, Rahmad harus konsentrasi menangani Persija Jakarta untuk menjalani 9 pertandingan penting.
"Rahmad juga menyampaikan alternatif pelatih yang bisa dipilih menggantikannya di antaranya Widodo C Putro dan Aji Santoso," jelas Imam.
Khusus untuk persiapan timnas, ungkap Imam, manajemen Prima menetapkan ISL dan LPI masing-masing 20 nama pemain.
Mereka akan dimasukkan ke Batu Jajar untuk kemudian diciutkan menjadi 30 pemain. "Ke-40 nama-nama pemain itu sudah ada di tangan Rahmad Darmawan," kata Imam lagi sembari menyebutkan LPI sudah diakui Komite Normalisasi sebagai turnamen. (Ashari)
Sumber: http://seagames26th.blogspot.com/
"Rahmad Darmawan terpilih sebagai pelatih timnas U-23 yang dipersiapkan ke SEA Games 2011. Namanya sudah masuk dalam daftar Program Indonesia Emas (Prima). Kini, kita tinggal tunggu Surat Keputusannya," kata Iman Arif di Jakarta, kemarin.
Dalam menjalankan tugas sebagai pelatih, Rahmad akan tetap berkoordinasi dengan pelatih timnas, Alfred Riedel. Menurut Iman Arif, Rahmad akan mendapatkan gaji sebesar Rp 7 juta dan Ridel selaku pelatih asing dibayar 3 ribu dolar.
"Masalah honor ini memang masih terus menjadi pembicaraan antara pihak BTN dengan Rahmad Darmawan. Tetapi, honor Itu tidak mungkin ditingkatkan karena sesuai dengan standar yang ditetapkan Prima," kata Iman Arif.
Mantan pelatih yang membawa tim Persipura dan Sriwijaya FC menjadi juara Divisi Utama PSSI dan Indonesia Super League ini sudah menyatakan kesediannya. Namun, ia baru bersedia menangani mulai Juli 2011 dimana kompetisi ISL sudah selesai.
Lebih jauh, Imam menyebutkan Rahmad juga mengungkapkan keberatannya mengikuti program pembentukan karakter di Batu Jajar yang diwajibkan kepada atlet dan pelatih Prima. Alasannya, Rahmad harus konsentrasi menangani Persija Jakarta untuk menjalani 9 pertandingan penting.
"Rahmad juga menyampaikan alternatif pelatih yang bisa dipilih menggantikannya di antaranya Widodo C Putro dan Aji Santoso," jelas Imam.
Khusus untuk persiapan timnas, ungkap Imam, manajemen Prima menetapkan ISL dan LPI masing-masing 20 nama pemain.
Mereka akan dimasukkan ke Batu Jajar untuk kemudian diciutkan menjadi 30 pemain. "Ke-40 nama-nama pemain itu sudah ada di tangan Rahmad Darmawan," kata Imam lagi sembari menyebutkan LPI sudah diakui Komite Normalisasi sebagai turnamen. (Ashari)
FAKTA BEBAN TEMBAKAU INDONESIA
Bagaimana keadaan masalah rokok di Indonesia? Menjelang Hari Tanpa Rokok Sedunia, 31 Mei 2011, berikut ini fakta tentang beban masalah tembakau di Indonesia.
World No Tobacco Day: FAKTA BEBAN TEMBAKAU. The World Health Organization (WHO) selects "The WHO Framework Convention on Tobacco Control" as the theme of the next World No Tobacco Day, which will take place on Tuesday, 31 May 2011.
World No Tobacco Day: FAKTA BEBAN TEMBAKAU. The World Health Organization (WHO) selects "The WHO Framework Convention on Tobacco Control" as the theme of the next World No Tobacco Day, which will take place on Tuesday, 31 May 2011.
INDONESIA: FAKTA BEBAN TEMBAKAU
Indonesia belum meratifikasi Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau
KOMSUMSI
Penggunaan tembakau sedang meningkat di Indonesia.
• Terdapat sekitar 57 juta perokok di Indonesia.
• Sepertiga (34%) dari orang Indonesia merokok, kenaikan sebesar 26% sejak
tahun 1995.2
• 63% pria merokok. Kendati tingkat wanita yang merokok rendah (5%), angka
ini diperkirakan akan meningkat.3
• Di kalangan anak muda (usia 13-15 tahun), 12% menghisap rokok (remaja
putra 24%; remaja putri 2%).4
• 78% perokok mulai merokok sebelum usia 19 tahun,5 dan sepertiga pelajar
melaporkan mencoba rokok pertama mereka sebelum usia 10 tahun.6
• Sebagian besar perokok di Indonesia (88%) menggunakan rokok krekek
bercita rasa cengkih.
KONSEKUENSI KESEHATAN
Penggunaan tembakau itu mematikan. Merokok membunuh hingga separuh dari seluruh pengguna seumur hidup.
• Di Indonesia, merokok membunuh setidaknya 200.000 orang setiap
tahunnya.9
• Lebih dari 97 juta orang Indonesia yang tidak merokok secara reguler
terpapar asap bekas.10
• 81% anak muda (usia 13-15 tahun) terpapar asap bekas di tempat umum,
dan 65% anak muda terpapar asap bekas di rumah.1
BIAYA PADA MASYARAKAT
Tembakau menuntut biaya tinggi dari masyarakat.
• Di Indonesia, biaya perawatan kesehatan akibat penyakit terkait tembakau
mencapai 11 triliun rupiah setiap tahunnya (1,2 miliar USD).12
• Peluang ekonomi yang hilang di negara-negara berkembang dengan populasi padat sangatlah parah karena separuh dari seluruh kematian terkait tembakau terjadi selama masa produktif utama (30-69 tahun).13
• Pada tahun 2005, rumah tangga dengan perokok di Indonesia menghabiskan 11,5% penghasilan rumah tangganya untuk produk tembakau dibandingkan dengan 11% yang dibelanjakan untuk ikan,
daging, telur dan susu dijumlahkan, 3,2% untuk pendidikan dan 2,3% untuk
kesehatan.14
• Merokok juga mengakibatkan timbulnya biaya yang terkait dengan kerusakan akibat kebakaran dan rusaknya lingkungan hidup dari produksi dan kemasan produk tembakau.
Sumber: tobaccofreecenter.org
Sumber: tobaccofreecenter.org
Langganan:
Postingan (Atom)